Tuhan memang terlalu agung untuk kita kagumi. Pesan tersiratnya yang selalu Ia selipkan dalam benda-benda ciptaanNya adalah bukti nyata kuasa Tuhan dalam mengilhami dan mengajari manusia. Diantara banyak hal yang kita bisa petik pelajaran dari alam semesta buatanNya, langit beserta benda-benda melayangnya bisa menjadi salah satu sumber ilmu yang cukup dalam untuk diselami. Tengoklah langit di siang hari, maka akan kita temukan mentari yang dengan sinarnya berputarlah roda aktivitas manusia. Sinar mentari pula yang melukiskan lapisan awan biru-putih , sehingga mampu menawarkan pemandangan terbaik bagi mereka yang diliputi duka. Langit siang hari memang menyiratkan ketenangan ketika kita menatapnya. Atau, lukisan langit malam yang juga tak kalah indah untuk dinikmati dengan rembulan cantiknya serta kerlip bintagnya yang menjadi penghias dalam kesuraman malam. Tapi tentu, kita tak akan mampu menikmati semuanya dalam satu waktu. Jika kita mengurutkan hikmah apa saja yang terkandung dalam benda-benda ajaib tersebut, tentu berpuluh-puluh lembar kertas pun tak akan bisa menampungnya.
Maka belajar bisa dimulai dari hal-hal kecil. Hal yang paling mungil jika kita lihat secara kasat mata ialah bintang. Ya, kita bisa sedikit memetik pelajaran dari titik-titik kuning cahaya ini. Pertama, bintang memberikan pesan dan kesan bahwa kecil tak selalu tak berguna. Kadang, banyak dari kita menganggap segala sesuatu yang besar yang harus dipentingkan terlebih dahulu, sesuatu yang kecil pun terlewatkan atau bahkan terlupakan. Contoh sederhana, saat kita melempar bungkus permen begitu saja. mungkin benar akan bebas terhempas angin, tapi siapa sangka justru dari situlah saluran-saluran air tertutup mampat sehinga banjir besar pun tak terhindarkan. Bintang-bintang menggambarkan dengan apik bahwa letak kesempurnaan terdapat pada hal-hal kecil. Sinar bintang hanya setitik, kita semua mengakui itu, bahkan terlalu kecil jika dibandingkan dengan sinar rembulan yang cukup jelas untuk sekadar menerangi malam. Tapi bintang dengan kawanannya-lah yang menjadi petunjuk bagi para pelayar untuk menaklukkan luasnya samudra atau kembali ke pantai selepas menangkap ikan. Gugusan bintang masih menjadi pilihan terbaik bagi para pengelana untuk menentukan arah mata angin. Mereka kecil namun dengan kebersamaan mampu memberikan manfaat yang begitu besar. Tanpa kerlap-kerlip bintang, tidak akan sempurna keanggunan langit malam yang terkenal dengan kolaborasi manis bulan-bintang.
Kedua, bintang juga mengajari kita makna kesuksesan. Tak banyak orang yang tahu tentang fakta bahwa titik sinar bintang yang kita lihat saat ini, merupakan hasil perjalanan panjang sinar itu sendiri selama berjuta-juta tahun lamanya menembus konstelasi galaksi-galaksi sebelum akhirnya sampai pada lapisan atmosfer bumi. Hal mana yang menegaskan bahwa kesuksesan bukan proses yang instan tanpa perjuangan melainkan proses panjang yang tak jarang harus menemui banyak kegagalan. Kita menemukan jiwa pantang menyerah ditampilkan oleh cahaya bintang ini sebelum akhirnya mampu menyinari pekatnya malam. Dalam dunia entertainment pun, istilah bintang digunakan untuk menggambarkan tenarnya sang artis. Ketenaran yang juga berasal dari kerja keras. Yak, kerja keras pantang putus asa pasti akan selalu membuahkan hasil.
Terakhir, hal sederhana yang sering luput kita sadari ialah kenyataan bahwa bintang tidak pernah bersinar pada siang hari. Tidak pernah ditemukan cahaya bintang di atas angkasa siang, atau titik sinar kecil di balik awan putih. Ia hanya berpendar saat dirinya diliputi oleh kegelapan. Sejatinya, seperti itulah jati diri bintang, terang dalam kegelapan, nyata dalam kemuraman. Sesuatu yang jarang ditemukan pada jiwa para pemimpin bangsa kita sekarang. Ditengah-tengah keterpurukan bangsa kita dalam berbagai hal, entah di bidang ekonomi, sosial-politik, atau moral, ternyata kita belum bisa menemukan bintang yang benar-benar bisa dijadikan petunjuk untuk membawa bangsa kita ke arah yang lebih baik. Kita hanya bisa berharap lahir bintang-bintang baru yang harus terus bermunculan walaupun perjalanan cahayanya masih panjang. Mampukah bintang-bintang masa depan itu nantinya menghiasi wajah kelam bangsa Indonesia?
-di muat di harian “PIkiran Rakyat” Selasa, 7 Februari 2012




