Jurnal Perjalanan Beijing

Prolog

Bismillahirrahmanirrahim. Cerita ini ditulis dalam rangka merekam jejak-jejak perjalanan saya –seorang diri :p – ketika berada di Beijing. Alhamdulillah, Allah terus mengizinkan kaki ini bergerak, berlari, dan terbang ke berbagai belahan dunia, walaupun baru sekitaran Asia hehe. 2014 Kuala Lumpur, 2015 New Delhi, dan 2016 Beijing.  Semuanya insya Allah dalam rangka belajar, iya kata yang tidak ada habisnya dalam kamus hidup saya. Selain, Allah sendiri yang menganjurkan hamba-Nya dalam Al-Quran untuk ‘berkeliling dunia’ (QS 67 :15). Sudah menjadi mimpi sejak kecil untuk keluar melihat ke negeri seberang, mencari apa arti kehidupan, peradaban, manusia, ciptaan-ciptaannya (berat amat yak, hehe), yang acapkali selalu membuat jiwa ini bersyukur dilahirkan sebagai manusia Indonesia, dan muslim. Di semua edisi kepergian saya, acara seminar dan konferensi ilmiah selalu menjadi tujuan utama. Nah, tentu sambil jalan-jalan setelah acara :p

Kedatangan

Berbekal tiket pesawat budget Air China CA-978 CGK-PEK, saya take off pukul 14.10 setelah delay 13 jam dari jadwal yang seharusnya (28 Des 00.40). Maskapai mengatakan delay karena kondisi cuaca yang buruk. Meski saya crosscheck, ternyata Garuda tetap berangkat 3 jam sebelumnya. Faktanya ialah, bisa jadi karena rute Garuda yang direct ke Beijing tanpa transit di Xiamen. Kalau ditracking, rute garuda memang melipir daratan menyisir Malaysia, Thailand, kemudian ke utara. Mereka menghindari laut cina selatan yang menurut teman saya dan berbagai sumber, sedang ada badai siklon tropis. Exactly, Xiamen yang menjadi tempat transit utama Air China, berada di pantai timur dan tepat berada di utara laut cina selatan. Means, rute nya sangat-sangat membelah laut cina selatan, ditambah flight dini hari tanpa pandangan yang terbatas tentu sangat beresiko. No problem, pada akhirnya hehe, sing penting berangkat dan sampai pukul 01.00 dini hari waktu Beijing Alhamdulillah.

Di perjalanan, bertemu dengan ibu-ibu rombongan dari Jakarta yang ikut tour, berjumlah 8. Mungkin itu satu2nya rombongan Indonesia yang saya temui hehe. Sesampai di Beijing Capital Int’l yang -biasalah ya, bandara2 kota besar emang gitu, guedeeee nya minta ampun, ke mana2 bisa pegel sendiri wkwk. – sepi, dingin, dan …. sendiri ._.. Karena dini hari tidak ada airport express dan bus ke arah hotel tujuan, saya memberanikan diri naik taksi. Alhamdulillah taxi nya paham dengan alamat hotel yang sudah saya siapkan dengan bahasa cina, dengan bahasa tarzan dlu tentunya. Aoxiangge Hotel di daerah pusat kota Xicheng district dan cukup dekat ke berbagai  landmark di Beijing. Sampai pukul 02.00, beberes, dan istirahat. Ready for tomorrow yeah!

Hari 1

“Assalamualaikum, Beijng” 😀

Hari pertama kedatangan saya gunakan untuk ‘taaruf’ kota Beijing.  Jam 9 setelah sarapan roti tuna dari Indo yang udah dingin L, saya keluar hotel dan langsung menuju Tiananmen East Station. Obviusly, my first way to go is Tiananmen Square dan Forbidden City! 😀 . Seperti banyak travel blogger bilang, subway di Beijing itu udah moda transportasi yang paling nyaman buat foreigner di Beijing. Cepat, mudah dipahami, dekat tempat2 tujuan wisata, dan ada bahasa inggrisnya :”). Kebayanglah ya, kalau naik bus yang bahasa cina semua, mungkin udah nyampe mongol haha.  Dan, mirip seperti New Delhi, moda ini memang jadi andalan bagi Beijing Citizens sendiri, dengan sistem yang sangat luas, terintegrasi dari satu line ke line yang lain, menjangkau hampir setiap sudut kota, dan cukup dengan membeli Yikatong 40 CNY (semacam kartu e-money buat transport) , kita udah bisa kemana-mana dengan 4 CNY minimum tiap satu perjalanan. Murah abis kan, hehe. Terus mikir, kapan Jakarta kayak gini? Semoga yaa

img_0136

Jib Xiao Zheng, tour guide dadakan :p

Ciaat, keluar subway station, tengok kiri, semacam gak percaya saya berdiri melihat Gerbang Mao Zedong yang terkenal itu, haha. Luas, dan really benchmarked buat jadi ikon kota Beijing. Tiap langkah berasa berat, karena masih gak percaya ada disitu J. Lekas saya mencari spot-spot khas traveler untuk mendokumentasikan my first place to come. FYI, tiananmen square dan forbidden city dua tempat yang berbeda. Namun keduanya berada di satu komplek yang sama dan tepat berada di jantung kota Beijing. Lari-lari kecil untuk menjaga tubuh tetap hangat di suhu yang mencapai 3 derajat celcius, saya berselfie-ria sebelum menemukan “tour guide” dadakan. Namanya Jin Xiao Zheng. Student di suatu university Harbin, jago bahasa inggris, dan ramah banget, emang rejeki anak sholeh kali ya :D. Jadilah berhasil menuntaskan satu misi penting ; dapet foto2 bagus disana wkwk. Setelah hampir satu jam, saya masuk ke Forbidden City (tiket masuk CNY 40). Allah, bagus banget yak arsitekturnya. Dulu cuman bisa liat bangunan-bangunan antik ini di pilem2 nya Jet Li sekarang ada di depan mata :”). Kompleks nya yang dibangun di era Dinasti Qing dan Ming ini terdiri dari berbagai Gerbang, Bangunan-bangunan yang ditinggali oleh raja-raja China dari 1432 M sebelum akhirnya di jadikan salah satu World Heritage Site oleh UNESCO pada tahun 1987

img_0266

The Frozen River, setelah Exit Gate Forbidden City

Gerbang demi gerbang, nguping penjelasan tour sebelah haha, maklum automatic tour guide yang pake alat harganya 40 CNY, cukup menguras kantong khas backapcker :p. Sampailah saya di gerbang terakhir. Yak, itulah cerita sekian saya hari di hari pertama. See you tomorrow J

Hari 2

Bismillah, hari ke2 adalah hari pertama konferensi alias registrasi. Breakfast indonesian instant noodle rasa ayam penyet, dengan minum hot energen saya menembus dinginnya pagi di Beijing ke arah subway terdekat dengan conference venue. Subway terdekat dari hotel tempat saya menginap ialah Chegongzuang West, hanya 400 m 15 menit jalan kaki. Sampai pukul 10 pagi di lokasi, tidak ada tampak-tampak konferensi akan diselenggarakan di tempat tersebut. Setelah bertanya-tanya, barulah saya diarahkan oleh salah satu petugas hotel. Sekian menit tanda tangan, mendapatkan abstrak prosiding, selesai. Hmm… awalnya ragu mengapa konferensi international bisa sesingkat ini penyelenggarannya ; 1 hari konferensi dan 1 hari untuk keynote speech serta oral presentation. Namun, setelah dipikir—pikir, mungkin karena waktu konferensinya yang tepat di akhir tahun dan musim dingin, sedikit peserta yang hadir. Di daftar ada sekitar 50 lebih partisipan, sedangkan waktu di India, peserta lebih dari 100. Tidak apa pikir saya, experiece is worth it.

Semenit saya selesai registrasi, memakai coat lagi, dan cuus ke another great landmark nearby ; Olympic Park. Ciaat ciaat. Sekitar 100 meter berjalan dari hotel, bangunan berbentuk sangkar burung atau yang lebih dikenal dengan nama Bird Nest sudah kelihatan. Yah, lagi lagi saya menarik nafas dalam2. Berjalan semakin cepat, melewati security check, dan sampai lah ke dalam olympic park. Oiya, security check hampir ada di setiap bangunan penting di beijing bahkan termasuk subway. Maklum, pemerintah Beijing ingin benar-benar memastikan keamaan warga nya yang berjumlah 21 Juta orang itu. In that park, there has too many english direction. Bersyukur tidak perlu banyak berbahasa tarzan disana. Tiket masuk stadium nya 40 CNY, berhubung saya hanya tertarik untuk foto2 jadilah hanya sightseeing sembari mengagumi salah satu maha karya masyarakat beijing ini. As usual, setelah gagal mencari orang yang bisa diminta tolong buat foto, finally ketemu satu orang anak muda tampang2 student.

*bahasa tarzan : minta tolong foto

Dia bilang : “Ok, I understand”, horee ada yang ngerti bahasa inggris juga wkwk. “Ckrek”

*percakapan berlanjut *another sudden tour guided founded! Yeah!

Nama nya Jiao, student di daerah Harbin. His english is really helpful to get some great pictures in that olympic. Baiknya, beliau seakan memang ingin mengantarkan saya melihat sekeliling. Ya, dia memang terlihat seperti ingin jogging.

img_0295

Olympic park ternyata lebih luas dari yang dibayangkan. Bird Nest dan Aquatic centre memang salahs satu main building, tapi ternyata banyak bangunan-bangunan lain yang lebih bagus arsitektur nya. Semua itu dibangun dalam rangka  menyambut atlet2 dari seluruh dunia dalam penyelenggaran Olimpiade Musim Panas pada tahun 2008. Setelah puas melihat sekeliling olympic park yang luas, saya berjalan ke arah subway terdekat untuk melanjutkan perjalanan ke next destination : Niujie Mosque.

Masuk bawah tanah subway Olympic Green, tidak disangka saya menemukan restoran bertuliskan arab. Ha, Alhamdulillah setelah sekian jam di Beijing, akhirnya bertemu dengan restoran halal. Tanpa basa basi, saya langsung masuk dan memesan sepiring nasi kentang yang ternyata porsi nya cukup banyak haha.

Subway olympic green ke subway Guan’anmennei memakan waktu sekitar 30 menit dan masjid Niuje terletak 200 m dari subway. Daerah sekitar masjid memang ternyata pusat komunitas muslim di beijing, banyak restoran halal, orang-orang berpeci putih dan ibu-ibu berjilbab. Sekian menit kemudian, saya sampai di depan gapura Masjid Niujie. Seorang bapak separuh baya menyapa saya dengan “Assalamualaikum”, yang langsung saya balas “Waalaikumsalam”. Kemudian, dia berkata lagi dalam bahasa cina. Tetooot, saya gak bisa ngerti haha.

Masuk ke dalam komplek Masjid yang menurut sejarah merupakan masjid tertua di Beijing ini, saya sedikit takjub. Bangunan dan menara berarsitektur khas mandarin dengan blend kaligrafi islam terlihat di berbagai sudut. Teringat saya datang kesini tidak hanya untuk berkunjung, saya mengambil wudhu dan sholat di aula utama yang hanya diperbolehkan untuk muslim. Suasana haru sedikit menelisik relung saya karena di tengah dinginnya suhu Beijing yang mencapai -5, saya mendengar seorang mengaji dengan lafal yang indah, kemudian seorang bapak berwajah asli beijing menengadahkan tangan berdoa sembari sesekali menangis. Ada kehangatan berada dalam aula tersebut. Can’t keep my self to banyak2 bersyukur. Mungkin, seperti menemukan keluarga ditengah kesendirian haha. Alhamdulillah, terus bersyukur bisa menjejakkan kaki disini, melihat napak tilas sejarah Islam di Beijing.

img_0376

katanya Supermarket Muslim terbesar di Beijing

img_0394

tempat syuting nya Assalamulaiakum Beijing nih haha

img_0415

Suasana aula masjid yang Syahdu

Usai maghrib, seorang jamaah menghampiri saya

“Malaysia?” // “No… Indonesia”

dan dari situ percakapan singkat saya berlanjut tentang kehidupan sekilas masyarakat muslim di Beijing. Mereka, muslim, berasal dari suatu daerah di barat china bernama Xinjiang. Xinjiang memang dikenal dengan daerah muslim terbesar di China since it is really close to the asia tengah seperti kazakhstan, uzbekistan yang notabene nya negara2 mayoritas muslim. Terlihat memang, wajahnya tidak sesepiti orang china kebanyakan. Namanya Ilyas, sebelum dia memberitahu nama cina nya “Ma Hong Ming”. Bekerja sebagai pemilik hotel muslim di jalan Niujie.

Waktu sudah pukul  7 sebelum akhirnya saya memutuskan untuk kembali ke hotel. Alhamdulillah.

Hari 3

Bangun agak telat dan tidak sempat melihat keynote speech, saya cukup panik. Baru berangkat pukul 9 dan sampai di lokasi konferensi pukul 11. Dengan stelan kasual (cieelah) dan persiapan presentasi yang insya Allah cukup matang, saya masuk ke ruang konferensi. Peserta yang tidak mencapai 50 orang dan ruangan konferensi yang tidak terlalu besar membuat saya bergumam. “Hmm tidak pernah saya lihat konferensi sekecil ini”

Ya, kebetulan mungkin karena tanggal konferensi nya yang tepat di penghujung tahun. Waktu dimana orang-orang (pasti, walaupun belum tentu) akan memilih untuk berlibur dan merayakan tahun baru. Sehingga kesimpulannya sederhana ; peserta yang datang pun tidak banyak.

Begitu saya masuk, panitia langsung memberitahu bahwa jadwal presentasi saya dipercepat menjadi sebelum jam 12. Lebih cepat 1 jam dari jadwal yang diperkirakan. Tak apalah, lebih cepat lebih baik, pikir saya. Dengan berbekal nekad dan pronounciation yang masih amburadul saya mempresentasikan paper saya yang berjudul “xxxkxmcaklnclkasmcklasc” *sensor haha.

Alhamdulillah, presentasi berjalan lancar, lunch. Dan bertemu dengan presentasi konferensi yang muka nya tidak asing di mata saya. Berwajah indo, dan benar saja, dia langsung menyapa

“Hey dari Indo ya? // “Iya, haloo salam kenal, jakarta?” // “Bukan karawaci” .

Singkat cerita, namanya  adalah Putri, sedang S2 di taiwan dan punya tujuan yang sama di Beijing, presentasi paper dan jalan-jalan. Dengan ajakan ibu nya yang juga datang menemani, setelah konferensi selesai, saya pergi bersama Ibu dan anak ini beserta teman konferensi yang lain dari india ke Shicahai!

Shicahai, lebih dapat dikatakan sebagai jalanan asli Beijing, yang tidak tergerus oleh modernisasi. Jalanan yang terdapat banyak toko souvenir dan jajanan khas beijing. Masyarakat disana cukup menikmati jalan kecil ini. Cukup ramai karena malam ny adalah malam tahun baru, berbagai jajanan murah khas beijing terlihat dimana2. Menyusuri shicahai sebentar sambil membeli beberapa souvenir, kemudian kami pergi ke temple of beihai. Cukup bagus, pikirku, dan besar. Namun sayangnya sudah tutup.

Ya, itulah sekilas perjalanan hari 3.

img_0449

Shicahai traditional street

Hari 4

Belum ke China kalau belum ke Great Wall, begitu kata orang banyak.

Itulah misi saya yang harus dituntakan hari ini, ke Great Wall. Banyak transportasi yang bisa dipilih untuk sampai ke Great Wall semenjak pemerintah Beijing membangun infrastruktur transportasi  yang terintegrasi antar satu Line dengan line yang lain. –membuat keliling Beijing dengan modal backpacker bukanlah hal yang sulit- karena setiap tempat wisata terkenal di Beijing dapat dicapai dengan subway, termasuk Badaling Great Wall.

Dari subway manapun di Beijing, ambil subway dengan stasiun tujuan terakhir Huoying, kena cas sebesar 6 yuan, kemudian mengambil train S2 dari Huoying menuju stasiun kereta Badaling Great Wall hanya 6 yuan. Sesampai di Badaling sekitar pukul 9, saya mencerna situasi sebentar. Ternyata cukup banyak petunjuk tourism yang sudah ramah turis alias berbahasa inggris.

Dari pintu masuk, sudah terlihat beberapa tower-tower yang merupakan salah satu titik utama untuk melihat keseluruhan great Wall. Untuk menuju puncak tersebut, yang menurut travelchinaguide.com, merupakan tower yang memiliki view yang paling bagus dari keseluruhan section great wall dan highly recommended for the first time visitor to Beijing. Terdapat dua cara menuju tower tersebut, naik cable car atau jalan kaki. Mempertimbangkan jalan kaki dengan medan yang agak menanjak dan berjarak sekitar 2 km, saya memilih cable car yang agak sedikit mahal yaitu 100 yuan untuk single trip.

Ya, sesampai di tower ke 12 tersebut, berjalan sedikit keluar, ternyata sudah cukup banyak pengunjung yang datang. Dan kebanyakan ialah orang china itu sendiri. Teringat bahwa hari ini adalah 1 Januari 2017. Wajarlah, haha.

Beberapa detik kemudian saya hanya bisa menghela nafas berkali-kali. Alhamdulillah, another sudden dream has come true. Ya, sudden dream, karena tidak pernah sedikitpun punya cita-cita untuk pergi China apalagi ke Great Wall. Dan ternyata, that was my 4th visit to one of the seven wonder. Subhanallah, indah sekali. Tembok yang mengular dan membelah bebukitan persis seperti di kamus-kamus RPUL . dan Maha Baik nya Allah tidak berhenti sampai disitu, di tengah kerumunan orang Beijing yang hendak menuju puncak tower, saya bertemu dengan Mr Dinesh, temen konferensi dari India yang sehari sebelumnya berjanji untuk berangkat bareng. Namun karena dia membawa teman, jadilah saya pergi duluan dengan train. Dia bersama teman satu hostel nya dari Korea, namanya Ho Beom, yang lancar bahasa cina ;D

Sure, jadilah ada tour guide dan kang poto dadakan ;D. Great Wall sendiri memiliki lebar sekitar 8 m dengan tinggi 12 m, tembok yang memang cukup besar untuk menahan gempurang serangan-serangan infanteri atau alat berat saat perang dari pasukan mongol di Utara. Wajar kayaknya masih dijadikan sebagai 7 Wonder di update terakhir oleh UNESCO, karena tidak mudah membangun maha karya sebesar ini. Apalagi katanya dibangun berpuluh-puluh tahun sambung menyambung antar dinasti dan emperor. Subhnallah.

“Mr. Yusuf, lets go!” ajak Mr Dinesh,

“Sorry, I cant keep my self for admiring this great thing” balas saya. Dan masih tidak percaya haha. Beberapa menit menyapu pemandangan, saya bersama Dinesh dan Ho Beom mulai berjalan turun menyusuri tower demi tower. Cukup banyak foreign turis juga ternyata, umumnya bule. Sampai di tower terakhir, saya berucap dalam hati. Semoga ini bukan 7 wonder yang terakhir. Aaamin . 😀

img_0630

kiri – kanan : Fedi Nuril – Lee Min Ho – Aamir Khan

Last Day

Last day in Beijing saya gunakan untuk mengunjungi  dua famous place to visit yang belum dikunjungi yakni ; Temple of Heaven dan Summer Palace. Jam 8 pagi saya janjian dengan sudden travel mate from India and Korea, Mr Dinesh dan Mr Ho Beom, di stasiun terdekat dengan Temple of Heaven : Tianandongmen. Berjalan sekitar 50 meter dan pintu gerbang temple of heaven sudah terlihat.

Tidak banyak yang bisa dilihat di Temple of Heaven selain bangunan utama yang bernama Hall of Prayer yang merupakan alter tempat Raja-raja pada masa Dinasti Ming dan Qing terdahulu melakukan ritual untuk meminta kesuburan pada tanah-tanah pertanian mereka. Beberapa temple-temple kecil ada juga dan cukup dirawat serta luas kompleks nya yang luas bahkan lebih luas dari Forbidden City. Satu hal yang saya sukai dari tempat wisata yang luas ini ialah taman, pepohonan yang tidak gugur tidak seperti pohon-pohon diluar komplek. Ditambah, fenomena para elders atau sesepuh yang melakukan berbagai aktivitas seperti bermain kartu, melukis, bercengkerama seakan mereka benar-benar menikmati masa pensiun. Ternyata, tempat ini memang dibuka secara gratis untuk usia diatas 60 tahun. Keren juga ya bagaimana pemerintah Beijing menghormati mereka.

Sekitar 2 jam saya di Temple of Heaven, makan siang, kemudian menuju destinasi terakhir : Summer Palace. Di Sesi terakhi ini, sayangnya, saya harus berpisah dengan Mr Dinesh dan Mr Ho Beom ini, karena mereka belum mengunjungi  tiananmen square dan forbidden city. Berbekal nekad dan kamera DSLR yang setia menemani dari hari pertama, saya membelah Beijing secara diagonal ke arah barat laut Beijing dengan subway. Turun di Beigongmen kemudian berjalan sedikit 50 m tibalah di gerbang Summer Palace. 28 CNY tiket masuk.

Setelah beberapa kali meminta orang untuk mengambil foto dengan bahasa tarzan, akhirnya saya kapok juga untuk tidak bisa tidak menyewa profesional tour guide hehe. Kabar baiknya, saya berhasil menawar dari harga 100 yuan menjadi 50 yuan untuk 1 jam keliling kompleks palace. Setelah melewati beberapa spot penting, kesimpulannya tidak menyesal menggunakan jasa tour guide karena kompleks nya sangat luas dan terlalu banyak spot indah untuk diabadikan. Danau kunming adalah yang tercantik dengan air nya yang membeku disertai pantulan cahaya senja yang menawan *caelah.

Finally, my journey is finish!

img_0750

orang tua dan anak2 bermain di komplek Temple of Heaven

img_0861

Danau Kunming : inside Summer Palace

Epilog Beijing

Saya belajar satu hal penting selama di Beijing : kerja keras dan kegigihan J

 

 

 

 

 

Belajar dari India (Part 2 – Akhir)

            Sudah lebih dari 1 setengah tahun perjalanan itu usai. Sudah lebih dari satu tahun juga seri pertama dari tulisan perjalanan india berhasil dipublish di blog yang sudah cukup usang ini. Setelah melalui beberapa dinamika perkuliahan, saya tetap berusaha berjanji untuk menyelesaikan kisah perjalanan empat manusia yang lugu dan polos ke negeri seribu dewa : India. Sembari berharap dari kisah ini terus lahir orang-orang yang memiliki semangat belajar dan semangat menggapai cita-cita ke dunia luar. Alhamdulillah, dengan izin Allah, seri ini akan menutup kisah yang sebelumnya sudah ditulis di “Belajar dari India (Part 1).

Yap, setelah berkenalan dengan budaya, kultur, keseharian India selama satu hari kami di New Delhi, agenda kami berlanjut ke agenda utama yang merupakan tujuan utama keberadaan kami di India, yaitu konferensi internasional. 15 Januari – 17 Januari 2015 adalah serangkain hari-hari dimana kami berpartisipasi di kegiatan ilmiah level internasional untuk pertama kalinya. The 5th Asia-Oceania Conference on Green and Sustaimable Chemistry seperti layaknya konferensi internasional pada umumnya, terdiri dari kegiatan seminar dan presentasi hasil penelitian dari berbagai akademisi serta peneliti internasional baik oral maupun poster. Konferensi ini sendiri merupakan seri ke-5 kegiatan yang diinisiasi oleh salah satu komunitas kimia terbesar di dunia yakni Royal Society of Chemistry, yang berpusat di UK, kemudian berkolaborasi dengan insititusi penelitian energy dan sumber daya alam India ; The Energy Resources Institute. Institusi RSC inilah yang membuat saya yakin bahwa konferensi ini bukan sembarang konferensi dengan target utama profit oriented, namun seminar internasional yang mempertemukan berbagai peneliti unggul di bidang green chemistry dalam satu event ilmiah.

Tiga hari kami berputar-putar di tempat bernama India Habitat Centre, lokasi dimana konferensi berlangsung, memberikan kami banyak wawasan dan pelajaran. Dari tempat perhelatannya saja, yang terlihat bukan hotel seperti pada konferensi umumnya, saya sudah menyadari bagaimana kecintaan bangsa India terhadap seni bata merah yang melekat dalam arsitektur mereka. Bata-bata merah yang menyusun hampir sebagian besar aristektur India Habitat Centre terlihat tampak menawan. Pantulan matahari pagi dan senja yang membuat warna bata berubah-berubah semakin memperindah bangunan ini. Ah, butuh tulisan sendiri tampaknya untuk membahas arsitekturnya. Bukan itu pula wawasan penting yang kami dapat selama belajar berkomunikasi dan menyampaikan ide kepada ilmuwan-ilmuwan disana.

IMG_8538

India Habitat Centre (1)

IMG_8559

India Habitat Centra (2)

Pertama, orang India dalam lingkungan akademisnya sangat fasih dalam berbahasa inggris. Entah karena negara ini dulu pernah di jajah oleh bangsa Ratu Elizabeth itu atau karena semangat mereka dalam berkarir go international. In fact, bisa kita lihat kiprah orang India kini, terutama di bidang IT internasional sudah cukup banyak. Yet, jurnal-jurnal internasional yang sering saya download untuk skripsi atau penelitian, juga author nya orang India. Bahkan beberapa kali melakukan conversation dengan mereka seperti berbicara dengan native dari inggris, tentunya dengan logat khas mereka, hehe. Ada dua orang mahasiswa, seumuran kami bernama Amit dan Roy. Mereka kuliah di Univ of Delhi dan berbincang hangat dengan bahasa inggris yang hampir saya tidak mengerti, haha. Sangat cepat, lugas, dan beraksen. Namun akhirnya saya terbiasa dan kami bertukar informasi tentang negara kami masing-masing.

IMG_8717

kiri – kanan : Beryl, Yusuf, Roy, Amit, Arsy, dan Ayu

Pelajaran seru lain selama kegiatan konferensi kami disana ialah saat presentasi poster, kami sempat berkenalan dengan salah satu professor dari Monash University, yang bernama Prof Milton. Pertanyaan pertama yang ia ajukan saat datang ke poster kami ialah “Indonesia? Apa kabar air asia?”. Ya, saat itu di negara kita memang terjadi kecelakaan yang menimpa maskapai Air Asia. Tapi poin pentingnya adalah ternyata mereka cukup mengenal negara kami, hehe.  –Ya ialah kan tetanggaan Australia – Indonesia–. Dan kemudian kami bertanya-tanya sedikit tentang peluang beasiswa di Monash, siapa tahu ada rezeki dan berkesempatan disana hehe. Setelah berbincang dengan Prof Miltron, peserta konferensi lain datang silih berganti, dan tidak jarang kami menemukan mahasiswa-mahasiswa India yang tampaknya masih berumur dibawah 30 tahun namun sudah bergelar Ph.D.

Ah, satu lagi hal yang tidak akan terlupakan selama keikutksertaan kami di konferensi. makanan! Saya setuju dengan beberapa sumber baik online maupun offline yang mengatakan bahwa masakan india adalah yang paling aneh. That’s the fact when you have to not to take the lunch and the dinner provided by the conference just because the taste was very absurd. Semacam pedas asin mirip masakan Padang sebenarnya, tapi ini lebih kental dan isinya sayuran semua haha. Jadilah kami selama dua hari terakhir konferensi kabur lebih dulu dan makan KFC wkwk. Dan ketika pulang, dua hari muntah-mutah haha. Meski, tidak semua masakan disana tidak enak. Beberapa yang khas seperti chicken tandoori itu enak, ayam bakar khas dengan bumbu masala nya!

IMG_8642

Co-Author di sebelah kiri emang agak-agak ….

IMG_8669

bersama Prof. Milton dari Monash University

Tugas utama kami selama di India berakhir, menuntut ilmu di Conference. Sisa satu hari sebelum saya kembali ke Indonesia dan itu waktunya menikmati budaya dan wisata a.k.a. travelling. Tampaknya semua pembaca sudah tahu apa yang akan saya ceritakan, hehe. Ya, taj mahal di Agra adalah destinasi terakhir kami selama di India. Sudah banyak blog-blog atau tulisan yang menceritakan tempat yang paling bersejarah di tanah Hindi ini. Namun, itu tidak menghalangi saya untuk menuliskan juga keunikan lain dari Taj Mahal J

Singkat cerita, kami berangkat dari New Delhi hingga Agra pukul 6 pagi disaat suhu luar masih sekitar 10 derajat celcius. Di tengah dingin nya cuaca, kami menerobos jalanan tol Delhi-Agra sejauh 200 km (sekitar Jakarta-Cirebon) dengan mobil yang mirip seperti taksi. Hal uniknya adalah tol di India ternyata bisa dilewati oleh sepeda, becak, dan transportasi selain mobil, lebih mirip Pantura sebenarnya dibanding tol. Sekitar pukul 11 kami sampai dengan kepala dan perut yang sangat tidak bisa berkompromi. Alhasil makanan siang bagi saya serasa sangat hambar. Tidak jauh dari resto makan siang, turis-turis sudah banyak terlihat, menandakan tempat masuk taj mahal sudah dekat. Sampai di loket, kami membeli tiket, dan diberi sepasang kain untuk membungkus sepatu. Ya, kompleks Taj Mahal memang sangat ketat perawatannya bahkan dari injakan sepatu.

            Seketika saya memasuki kompleks Taj Mahal, mual dan pusing yang sedari perjalanan mengaburkan hasrat saya untuk bertahan berkunjung ke tempat ini pudar tatkala melihat begitu megahnya bangunan berwarna putih nan cantik tersebut. Keindahan Taj Mahal melompati ekspektasi yang berasal dari gambar-gambar yang sering saya lihat di atlas-atlas tujuh keajaiban dunia. Tidak salah memang kalau monument ini dijadikan salah satu warisan sejarah paling mengesankan. Pembuatannya membutuhkan waktu 22 tahun 22 bulan 22 hari dengan 22.000 pekerja dengan 22-22 lain yang saya lupa apa saja. Marmer putih yang mengkilau menyiratkan keanggunan budaya khas kerajaan Mughal yang dipimpin Shah Jehan. Empat Menara kubah yang terletak simetris di sudut sisi bangunan menunjukkan bukti cinta raja Shah Jehan kepada istrinya, Mumtaz Mahal. Kalau diingat-dingat, banyak sekali penjelasan dari tour guide kami saat itu yang menjelaskan apa, bagaimana, kenapa Taj Mahal bisa semengagumkan itu. Tentu tidak banyak juga yang penulis ingat, haha.

            DI depan taj mahal, taman-taman yang dirancang begitu terawat terlihat amat menawan, sebanding dengan begitu banyak nya turis yang berebutan menentukan spot untuk berfoto. Penasaran dengan sesuatu yang berada di dalam Taj, kami beranjak naik ke bangunan tersebut. Selain arsitektur nya yang kental ala Persia, bangunan ini juga dapat dikatakan sebagai warisan peradaban Islam karena kaligrafi nya yang menghiasi pintu masuk Taj. Monumen makam Mumtaz Mahal dibuat megah di dalam Taj dihiasi ukiran batu-batu yang -katanya- berasal dari berbagai penjuru peradaban. Begitu guide kami menjelaskan. Patut disyukuri, Allah mengizinkan kami mengunjugi salah satu keajaiban dunia yang unik ini. Bagi penulis pribadi, Taj Mahal meninggalkan kesan mendalam tentang kerja keras manusia dalam menjunjung tinggi suatu kerajaan atau peradaban. Selain itu, saya pribadi semakin termotivasi untuk meraih mimpi mengunjugi sisa empat keajaiban dunia yang lain ; tembok Cina, Menara Eiffel, colloseum Roma, dan piramida Giza  *semoga terwujud aamiin, hehe.

IMG_8874

potret Taj Mahal dari pintu gerbang utama

IMG_8900

Yeah, best group picture ever!

IMG_8947

Kaligrafi ayat Quran di pintu masuk bangunan Taj

Alhamdulillah, kisah perjalanan empat manusia di negara dengan orang-orang yang terbiasa menggeleng-gelengkan kepala ini berakhir. Tiada kesan, pesan, pengalaman yang tidak dapat dilupakan. Setiap momen nya memberikan pelajaran penting yang dapat direfleksikan bagi negeri kami tercinta : Indonesia #A6. Terima Kasih banyak to partner super rempong Beryl, partner super serba bisa Arsy, partner super sabar Ayu yang … Ah sudahlah tidak terhitung suka duka nya dari persiapan keberangkatan hingga kembali ke Indonesia. Sungguh, bersyukur penulis bisa belajar banyak dari kalian selama perjalanan, tentang banyak hal. Semoga kita diberikan kesempatan lagi untuk meraih tanah impian masing-masing. Menembus jarak, waktu, dan batas-batas yang ada. Ini, ada oleh-oleh foto buat kalian, *via chat WA ya :p

Finally, Alhamdulillah 🙂

  • Depok, 24 Juli 2016.

Belajar dari India (Part 1)

Pelajaran terpenting dari cerita pengantar kami ialah, bahwa tidak ada mimpi yang bisa diraih tanpa pengorbanan, tanpa peluh keringat dan perjuangan, dan mungkin juga tanpa air mata. Berdesak-desak dengan penghuni kereta pagi menuju Tebet, lalu bertarung dengan kemacetan di jalan-jalan Jakarta, mendatangi perusahaan-perusahaan dengan beberapa alamat yang salah, hanya untuk satu tujuan : mencari rezeki dari Allah yang kami yakin akan Allah berikan bagi orang-orang yang mau bekerja keras dan berusaha. Akhirnya, setelah perjuangan panjang yang menguras tenaga itu, semua persyaratan untuk pembuatan visa yang membutuhkan tiket pulang-pergi dan berkas penting lainnya, lengkap. Dengan dicetaknya visa pada tanggal 8 Januari 2015, kami tau bahwa keberangkatan kami  hanya tinggal menghitung hari.

                13 Januari 2015. Grup Whatssapp yang semula bernama “Bismillah, H-1 India” akhirnya berganti menjadi, “#BackPackingIndia”. Jadwal keberangkatan dari Jakarta di tiket kami tertulis 11.40 WIB, namun kami sudah berkumpul sejak pukul 8 pagi untuk briefing sekali lagi. Saya (Yusuf) dan Beryl diantar oleh Ibu, dan Ayu-Arsy naik DAMRI (tidak diantar oleh orang tua), *kebalik gak ya? haha*. Sembari sarapan sederhana di salah satu kedai bakso di bandara, Ibu memberikan beberapa cerita dan pengalaman kepada kami tentang perjalanan ke berbagai negara. Teringat bahwa Ibu sudah terlampau kenyang (bagi saya) untuk mereguk berbagai ilmu kehidupan dari berbagai negeri, maka kami bersyukur mendapatkan banyak nasihat-nasihat penting seperti bagaimana cara beradaptasi disana, bagaimana menjadi seorang agen muslim yang percaya diri dan mampu berkontribusi bagi pengembangan ilmu pengetahuan, bagaimana membangun relasi internasional dengan orang-orang baru, dan banyak lainnya. Usai sarapan, kami lekas melaksanakan sholat Dhuha, dan menukar beberapa rupiah yang belum menjadi dollar. Dan sebagian dollar menjadi rupees. Catatan penting : Jangan membawa uang rupees terlalu banyak dari Indonesia, karena dalam banyak kasus didapatkan uang tersebut palsu.  Sebelum check-in, kami sekali lagi berkumpul untuk berdoa, menenangkan diri. Everythings gonna be okay. Dan…. Check in!

sebelum check-in

sebelum check-in

Proses dari pencarian tempat check-in sampai menginjakkan kaki di pesawat juga bukan tanpa cerita. Tiket pesawat saya dan Beryl yang tidak dapat ditukar dengan boarding pass, yang akhirnya membuat kami harus berkeliling mencari loket Lion Air, lalu “pembuangan sia-sia” berliter-liter air mineral, dan kerempongan Beryl yang harus lepas-pakai berkali-kali ikat pinggang di tiap pengecekan sebab besi ikat pinggang tersebut. Kalau diliat, Beryl memiliki skor kerempongan yang paling tinggi disini, haha. Namun setelah melalui itu semua, Alhamdulillah kami sampai di pesawat bersama sinar terik yang menelisik masuk melewati  jendela, yang mengiringi take off pesawat Lion Air kami untuk terbang menuju Kuala Lumpur.

2 Jam berada di udara mengantarkan kami sampai di Kuala Lumpur International Airport, Malaysia satu jam lebih cepat dari WIB untuk transit. Lekas kami mengurus cek-in ulang untuk mendapatkan boarding pass dari KL ke New Delhi, dan di boarding room sudah terlihat banyak orang India disana. Hidung mancung, lekuk mata yang dalam, warna bola mata yang hitam legam, dan beberapa titik-titik merah di dahi dengan turban melilit ubun-ubun. Unik memang perawakan orang India, hal yang sama mungkin juga dipikirkan ketika orang-orang itu melihat kita, orang Indonesia. Haha, itulah keberagaman, sesuatu yang terjadi karena hukum alam dan kebesaran Tuhan. Boarding time selesai dan kami berjalan menyusuri lorong-lorong panjang hingga akhirnya menjejakkan sampai di kabin pesawat Malindo Air. Pesawat sekelas Garuda dengan pelayanan yang cukup berbeda dibanding saudaranya, Lion Air. Pramugari dengan logat khas melayu, ruang kabin yang cukup luas, serta menu dinner khas India yang ternyata kami tidak ada yang suka. Ya, itulah pertama kalinya kami merasakan makanan vegetarian yang berupa kari biji kacang (tidak ada daging!) dengan rasa yang tidak masuk ke lidah. Sejak saat itu, kami bersyukur membawa banyak stok indomie goreng, energen, dan pop mie, hehe.

5 Jam di udara dengan dinamika alamnya ; awan-awan berwarna jingga, dataran kosong di pinggiran India, dan samudera biru yang luas. Suhu dingin 11 derajat menyambut kami di bandara Indira Ghandi International Airport. Mungkin inilah kali pertama saya merasakan udara yang benar-benar menusuk tulang. Bagi manusia tropis yang belum terbiasa, muka kami semua memerah. Catatan penting : selalu kumpulkan infomasi sebanyak-banyaknya mengenai kondisi negara yang akan dikunjungi, baik iklim, karakter orang-orangnya, sampai rasa makanan. Alhamdulillah semua mantel sudah lekat dengan tubuh kami. Turun dari pesawat, kami bergegas ke bagian imigrasi untuk pengecekan paspor dan visa. Tanpa melihat kondisi sekitar, kami mengantri cukup panjang sebelum akhirnya pada saat giliran kami, petugas imigrasi “mengusir” kami.

“Where is your form?” Tanya petugas dengan kepala menggeleng.

“What form?” balas saya bingung. Petugas itu menunjukkan form kecil khusus untuk foreigners.

Sekilat saya menerobos barisan menuju ke tempat pengisian form, dan menyesalinya bersama karena sebenarnya saat mengantri, kami sempat terheran dengan orang-orang yang membawa form kecil, namun kami terlalu percaya diri untuk terus ikut mengantri. Haha, hukumannya kami harus mengantri ulang dari belakang. Perasaan khawatir beberapa kali datang, Cup, yakin lo bisa lolos cek imigrasi?/ Cup, ini gate terakhir sebelum lo resmi bener-bener masuk negara India. Kekhawatiran itu saya gubris dengan melihat gaya orang-orang yang bersikap tenang saat pengecekan paspor. Maka saya mencoba bersikap tenang dan sedikit memasang tampang dingin. Sedetik dua detik, bunyi cap beberapa kali, tangan petugas itu mengembalikan paspor dan kepalanya menggeleng ke kanan tanda saya boleh lewat. Huwooo!! Assalamulaiakum New Delhi!!

                Sempat panic karena HP out of jaringan, kami termenung sebentar. Bingung. Tidak ada wajah-wajah khas Indonesia apalagi mahasiswa dengan identitas Ketua PPI India. Saya yakin info kedatangan sudah saya sampaikan dengan baik dan detil termasuk nomor penerbangan, jam kedatangan, dan yang lainnya kepada Mas Agoes, nama ketua PPI India tersebut. Akhirnya, kami inisitatif keluar bandara dan terlihat seorang India yang agak besar membawa kertas HVS yang berisi nama “Yusuf Zaim Hakim, Arsy Imanda, Ayu Septiarti, dan Beryl Mawarid”. Kami sontak berjalan ke arah sana dan mengkonfirmasikan bahwa orang tersebut ialah Pak Kamal Khan yang merupakan supir yang diamanatkan oleh pihak KBRI yang diamanatkan untuk menjemput kami. Selang 10 menit setelah itu, Mas Agoes datang. Udara yang sangat dingin akhirnya memaksa kami tidak mampu berlama-lama di luar bandara dan segera menuju mobil. Jadilah Pak Kamal dan Mas Agoes mengantar kami menuju tempat penginapan.

                Sesampainya di tempat penginapan, kondisi di dalam kamar sama dengan gambar iklan saat pemesanan kamar hotel lewat online. Sederhana, ukuran kasur yang memuat 2 orang, ada kamar mandi, TV, water heater, hair dryer, dan koneksi wifi. Sudah tengah malam. Tak lupa kami mengabari keluarga di tanah air bahwa kami telah sampai dengan selamat. Alhamdulillah, dan kami siap belajar di negeri Seribu Dewa ini.

14 Januari 2015. Hari kedua. Kami bangun dan melihat suasana pagi hari di distrik Paharganj, ternyata memang daerah dengan bangunan-bangunan agak kumuh. Sekilas, saya merasa bahwa suhu pagi itu sangat dingin, lebih dingin dari suhu di luar bandara semalam. Ternyata salah satu apps di hp yang bisa mendeteksi suhu sekitar menunjukkan 6 derajat celcius. Saya sedikit terbelalak, dan segera menutup jendela kembali. Sarapan pertama di India kami awali dengan menu yang tersedia di hotel, yaitu roti Paratta, sejenis roti pizza yang lebih tipis dan rasanya asin. Bersiap-siap, mandi dengan air yang sangat dingin, rapih-rapih, kami kebawah menuju lobi hotel. Perkenalan dengan pemilik hotel ternyata menepis dugaan kami yang menganggap pemliki hotel ialah hindu seperti masyarakat India pada umumnya, Ya, ternyata mereka beragama Islam.

distrik Paharganj. Banyak hotel-hotem murah disini.

distrik Paharganj. Banyak hotel-hotem murah disini.

Setelah bercengkerama dengan resepsionis, kami keluar dan berjalan menuju New Delhi Railway Station. Menurut studi peta yang kami lakukan, perjalanan tercepat dari Paharganj menuju KBRI India bisa dilakukan dengan kereta, tapi sesampainya kami di stasiun itu, tidak ada penjelasan rute yang mampu kami mengerti, yang akhirnya membuat kami mengambil keputusan untuk menaiki Auto Riksaw (sejenis bajaj beroda 3) yang berkeruman banyak dan sedari tadi menawari kami (mungkin karena kami turis, terutama saya yang mirip bule #loh). Memasuki kawasan yang terdapat banyak kedutaan, supir Auto itu sedikit bingung. Setelah bertanya dengan orang sekitar dimana letak kedubes Indonesia, supir Auto menunjukkan salah satu kebiasaan buruk masyarakat India ketika mengendarai mobil. Ya, supir yang kira-kira berumur 40tahunan itu secara tiba-tiba berputar balik, tanpa menginjak rem, tanpa melihat spion, tanpa mempedulikan kondisi jantung penumpangnya (kata Arsy, wkwk). Kami beristighfar berkali-kali karena tidak pernah membayangkan apa yang terjadi jika seandaikan ada mobil dari arah belakang yang datang dengan laju cepat. Setelah menghela nafas panjang, kami sampai di gerbang “Indonesian Embassy”. Tidak lupa sebelum masuk, gedung KBRI, kami berfoto dengan bapak Auto yang fenomenal itu.

Auto-nya cuman dua, supirnya kok ada tiga ya? *piss beryl XD

Auto-nya cuman dua, supirnya kok ada tiga ya? *piss beryl XD

Agenda pertama kami ialah kunjungan ke KBRI India. Kami bertemu dengan Pak Alam, salah satu staff atase pendidikan yang sudah lama tinggal di New Delhi.  Suhu dingin di luar seketika itu hilang ketika kami masuk ke sebuah ruangan yang lebih hangat. Kami disambut hangat oleh Pak Alam, Prof. Iwan, dan Kak Andhika dari humas PPI India yang merupakan mahasiswa S2 yang sedang menjalani magang di KBRI. Bincang hangat kami dengan Prof. Iwan sedikit banyak memberikan kami wawasan yang luas tentang negara yang sedang kami sambangi ini. Mulai dari kondisi Negara dan masyarakat India secara umum, kebudayaan, akademik, pemerintahan, hingga tempat-tempat wisata di India. Berikut sedikit resume dari kegiatan “Apa Kabar Indonesia” dari New Delhi pagi itu, hehe (Written by Ayu).

“India merupakan Negara dengan penduduk terbanyak di dunia dari data terakhir. Jumlah penduduk di India sekitar 1,3 milyar penduduk. Hampir 50-60 % dari total jumlah pendudukny merupakan masyarakat miskin. Kebanyakan masyarakat miskin di India tinggal nomaden (berpindah-pindah) dari tempat satu ke tempat lain (biasanya di bawah fly over jalan). Hidup secara nomaden sehingga sedikit mengurangi kelayakan tata kota India merupakan pilihan mereka. Hal tersebut bukan berarti hidup mereka tidak dijamin oleh pemerintah India, bahkan fasilitas tempat tinggal seperti rumah susun dengan harga terjangkau serta fasilitas kesehatan sudah disediakan gratis untuk masyarakat India yang membutuhkan. India merupakan Negara yang masing-masing kota besarnya memiliki otoritas penuh terhadap kemajuan kotanya sendiri sehingga dapat disebut sebagai Negara bagian. Peresebaran penduduk di India tidak merata, seperti di New Delhi kota yang cukup baik tata kotanya serta tidak ramai penduduk tidak dapat mengeneralisasi kondisi penduduk Negara India. Sebagian besar penduduk India terdapat di Agra salah satu pusat pariwisata yaitu Tajmahal. Walaupun India memiliki banyak sekali penduduk namun tingkat demokrasi di India sangatlah tinggi menempati peringkat kedua setelah China.

                Kebudayaan India sangatlah kental, dapat dilihat dari gaya berbicara serta wajah. Penanaman kebudayaan serta rasa nasionalisme tinggi telah dilakukan sejak kecil dalam keluarga. Hal tersebut merupakan sebab orang India maupun keturunan India akan tetap bisa berbahasa India walaupun tinggal di Negara lain. Tidak sama dengan orang Indonesia yang dengan mudah melupakan bahasa Indonesia jika lama bertempat tinggal di Negara lain. Hal ini patut dicontoh. Selain itu India sering dipandang sebelah mata dengan pandangan bahwa India Negara yang kumuh dan padat penduduk. Padahal pengelolaan sistem pengembangan teknologi maupun ekonomi sangatlah baik. Jika Indonesia memiliki jumlah penduduk sebanyak India, belum tentu Negara Indonesia mampu berkembang seperti India. Selain itu kalau diperhatikan lebih lanjut penduduk India mayoritas berjenis kelamin laki-laki hal ini dikarenakan India menganut sistem paternalistik dimana garis keturunan ayah atau anak laki-laki diutamakan. Untuk mencegah terjadinya aborsi atau pembunuhan terhadap anak perempuan maka rontgen jenis kelamin pada ibu hamil dilarang di India. Namun, entah paham paternalistik masih berlaku sampai sekarang atau tidak. Hal lain tentang kebudayaan India adalah umumnya India kurang ramah dengan turis hal ini disebabkan India menganut sistem kasta yang berasal dari kepercayaan agamannya yaitu Hindu (80% penduduk India , 20% lainnya muslim). Orang lain di luar kasta dipandang rendah oleh orang India.

                Pada aspek akademik, persaingan masuk Universitas terkenal di India sangatlah sulit. Bahkan dari 100% pendaftar, yang dapat masuk dan mengenyam pendidikan hanya 2 %. Hal ini memiliki dampak positif dan negatif, adapun dampak positifnya adalah mahasiswa yang mengenyam pendidikan di Universitas merupakan mahasiswa terbaik yang mampu bersaing dengan mahasiswadi negara lain. Sedangkan dampak negatifnya adalah kurang meratanya pendidikan di India. Sistem akademik India menganut sistem problem solving dimana semua hasil riset dan inovasi ditujukan sebagai solusi utama atas permasalahan yang ada di India. Tidak seperti Universitas di Indonesia misalnya yang masih menganut Eropa-Australian Oriented. India juga terkenal maju di bidang teknologi dan sains, terutama pada salah satu universitas terkemukanya yaitu Indian Institute of Technology. Perkembangan teknologi dan sains di India dilarang bercampur baur dengan agama dan sangat didukung oleh pemerintah sehingga mudah diimplemetasikan. Orang India banyak yang menduduki peringkat 2 pemegang perusahaan teknologi terkemuka antara lain oracle, htc dan lain-lain. Bahkan hampir 50 % pemegang hak paten Amerika Serikat merupakan orang India dan keturunan India. Teknologi India yang sangat maju mendukung pengembangan energi alternative terutama untuk angkutan massal. Hampir 100 % angkutan massal berbahan bakar gas (CNG) dan hanya sekitar 50% mobil pribadi yang masih menggunakan petroleum. Dalam hal ini, Indonesia patut mencontoh India

                Pada aspek wisata, India tentu terkenal dengan pusat pariwisatanya Tajmahal. Tajmahal berada di kota Agra, salah satu kota pariwisata di India. Di Agra terdapat 2 tempat wisata lai yang terkenal yaitu Agra Fort serta Fatehfur Sikri yang berdekatan dengan Tajmahal. Sedangkan di New Delhi ibukota India terdapat beberapa tempat pariwisata yang cukup terkenal yang letaknya tersebar di Delhi, antara lain : Indian’s Gate, Humayum’s Tomb, serta Qutub Minar. Sedangkan pusat industri hiburan terletak di Chennai dengan masyarakat berbahasa Hindi serta di Mumbai dengan masyarakat berbahasa Tamil. Tempat pembelian oleh-oleh atau souvenir khas India terletak di Connaught Place yaitu Jan Path dan Sarojini. Untuk menjangkau tempat pariwisat tersebut disediakan banyak transportasi yaitu Auto Rhikshaw (Auto, Tuk-tuk), Riksa (semacam becak), bus, metro, train antar kota serta pesawat”

Bersama Prof. Iwan Pranoto, Atase Pendidikan KBRI India

Bersama Prof. Iwan Pranoto, Atase Pendidikan KBRI India

Setelah berbincang panjang ditemani teh hitam khas India, kami diantar oleh Pak Alam menuju tempat tempat Money Changer yang aman, sudah biasa menjadi langganan. Tak begitu jauh. Tempatnya seperti ruko-ruko bertingkat. Memasuki salah satu ruko yang merupakan sebuah minimarket. Ternyata itulah tempat penukaran uangnya. Selain menjual barang-barang sembako seperti toko kelontong, minimarket ini juga melayani jasa penukaran uang. Setelah menukar uang dan membeli beberapa barang untuk persediaan selama 6 hari ke depan, kami kembali ke mobil. Tujuan kami selanjutnya adalah survey lokasi konferensi yang bertempat di India Habitat Centre.

Sebelum menuju ke India Habitat Centre, Pak Alam mengajak kami makan siang ke sebuah restoran yang berlokasi di kawasan pertokoan dan pasar yang dipadati oleh para pedagang kaki lima. Pak Alam menyebutnya kawasan ini merupakan pusat warga Islam yang berada di New Delhi. Aroma-aroma khas parfum India, bau kari daging dari rumah makan bercampur menusuk indra penciuman. Melewati beberapa gang kecil, kami sampai di sebuah restoran minimalis yang agak royal dan kedap suara. Duduk diam dan termangu melihat menu-menu asing, Pak Alam memesan semuanya. Telisik lebih jauh, ternyata restoran muslim ini merupakan restoran muslim yang paling terkenal di New Delhi, Al-Karim namanya. Pak Alam berujar hampir setiap orang penting dari Indonesia yang datang ke New Delhi pasti diajak makan di restoran ini. Setidaknya, ketenaran restoran ini terlihat dari menu-menu yang datang di meja makan kami. Chicken Tandoori yang berupa Ayam bakar dengan kuah gulai yang kental dihiasi dengan biji melon sebagai penyedap rasa. Tandoori kambing dan Roti Paratta ikut hadir menemani menu makan siang tak terduga kami. Catatan penting : Untuk siapapun yang akan ke New Delhi nanti, jangan lewatkan untuk makan di rumah makan ini, hehe. Very highly recommended. Alhamdulillah.

bersama Pak Alam di restoran Al-Karim

bersama Pak Alam di restoran Al-Karim

                Usai makan siang, kami diajak keliling menuju beberapa landmark di New Delhi. Seperti yang dikatakan Prof. Iwan, tata kota New Delhi memang rapih. Kami diajak melewati sebuah icon kota bernama India Gate, yang sayangnya sedang ditutup untuk persiapan hari Kemerdekaan India yang katanya mengundang Barack Obama. Pak Alam menjelaskan pengamana di berbagai titik penting di kota ditingkatkan untuk menghindai ancaman teroris. Lewat India Gate, kami tiba di salah satu landmark lain yang membuat kami tidak berhenti berdecak kagum, Central Secretariat namanya.

Central Secretariat

Central Secretariat

Central Secretariat sangat indah sekali, meski sedikit berkabut. Tempat yang merupakan gedung-gedung pusat pemerintahan ini dibangun dengan arsitektur khas India, yaitu bata merah dengan bentuk bangunan kotak-kotak. Istana Presiden yang mirip dengan Capitol Hill di Washington DC (belum pernah kesana :”() ternyata sangat simetris dengan India Gate yang berjarak berkilo-kilo meter dari Central Secretariat. Semacam tata kota yang sudah dirancang baik-baik oleh pemerintah Inggris di masa lampau. Disamping istana presiden berjejer gedung pemerintahan yang unik. Lepas kunjungan kami ke Central Secretariat, kami survey menuju lokasi konferensi yang akan dilaksanakan esok harinya. Tempatnya bernama India Habitat Centre, kalau di Jakarta mirip dengan Jakarta Convention Centra, namun lebih luas dengan bangunan-bangunan lain yang megah dan tertata mewah. Sebentar kami disana, dan kami diantar oleh Pak Alam menuju kampus Mas Agus, yaitu Jawahahral Nehru University (JNU). Mas Agoes mengajak kami berkeliling kampus dan mengenalkan berbagai aktivitas dan tempat-tempat menarik disana.

Kalau di Indonesia, JNU sama seperti UI. Banyak pusat-pusat studi ilmu humaniora dan social berkembang disini. Mas Agus sendiri ialah mahasiswa S2 yang mengambil ilmu Hubungan Internasional. Beberapa bangunan masih dengan gaya khas India yang berbentuk kotak-kotak. Saat kami berjalan lebih jauh, beberapa bangunan terhiasi dengan coretan-coretan dan gambar-gambar seperti propaganda mahasiswa di kampus kami. Benar saja, ternyata memang sedang ada demo disini. Namun beda dengan di Depok ialah di JNU demo tidak memakai almamater dan kuliah diliburkan (weeh enak banget kalo UI kek gini XD). Mas Agus juga mengajak kami ke beberapa sekolah tinggi sainsnya seperti School of Physics, dan Centre of Nano Studies. Lingkungan di kampus ini ternyata juga cukup natural, ada tupai, anjing, merak, kakak tua, elang. Seperti kampus yang terletak di kebun binatang kecil. Selesai berkeliling, kami solat sebentar di asrama Kak Aina (teman Mas Agus di program S2 yang merupakan mahasiswi muslim satu-satunya dari Thailand). Kak Aina juga bercerita bahwa persaudaraan sesama muslim disini sangat terasa, karena minoritas. Namun, walaupun minoritas, tidak banyak yang memikirkan dan kampusnya sangat menjujung tinggi toleransi.

Paling kanan : Mas Agoes, ketua PPI India yang mengambil studi S2 Hubungan Internsional di JNU

Paling kanan : Mas Agoes, ketua PPI India yang mengambil studi S2 Hubungan Internsional di JNU

Kampus JNU yang cukup natural

Kampus JNU yang cukup natural

Waktu sudah menunjukkan pukul enam waktu setempat. Kami pulang dengan AutoRiksaw yang ternyata menjadi transportasi favorit kami selama di India. Pertama karena murah, kedua karena cukup buat berempat, walaupun akhirnya Saya dan Beryl pangkuan -_-“.

Alhamdulillah, hari pertama kami penuh dengan ketakjuban-kesyukuran-kesedihan, dan hal-hal lain yang berkesan. Bekal yang cukup berharga sudah kami miliki dari banyak orang Indonesia yang kami temui di hari pertama. Terima Kasih banyak untuk Pak Alam Amrullah atas guidenya di hari pertama, juga untuk Prof. Iwan yang memberikan banyak pengetahuan tentang India, dan Mas Agoes yang mengenalkan kami dengan kampus UI-nya India, JNU, hehe. And the story is still counting….

Kami dan Monumen Jawaharlal Nehru

Kami dan Monumen Jawaharlal Nehru

                (Bersambung).

India dan Cita-Cita

Dulu, saat masa-masa menjadi mahasiswa baru nan lugu, melihat senior-senior di kampus bisa pergi ke luar negeri ialah hal yang keren. Entah dari sudut pandang mana hal itu bisa dikatakan keren. Beberapa kali hadir di agenda-agenda ospek baik fakuiltas maupun jurusan, pembicara-pembicara yang masih (rata-rata belum lulus) itu, berkali-kali memotivasi kami. Tentang perjalanan-perjalanan ke berbagai negeri dengan beragam tujuan. Penelitian, konferensi, lomba, forum internasional, dan agenda-agenda berbau prestige lainnya. Dan ternyata, motivasi-motivasi mereka membawa saya pada suatu kesimpulan. Bahwa ke luar negeri sebelum lulus kuliah ialah suatu keharusan. Setidaknya, alasan lebih jelas dan clear terkait hal ini bisa disimak ke link ini

Maka, sejak bertemu dan mendengar cerita-cerita inspiratif itu, saya sepakat untuk berkata pada diri saya “Bismillah, Yusuf akan (bisa) ke luar negeri nanti!”. Meski itu hanya gumaman yang menggebu-gebu dan tidak tahu tindak selanjutnya apa.  Gumaman itu, saya catat dalam jiwa saya di tahun 2012. Waktu-waktu mahasiswa yang masih lugu. Gumaman itu, saya namakan mimpi, mimpi yang mencerminkan perjuangan untuk meraihnya, untuk bisa belajar ke berbagai bangsa dan negara, dan tentunya bisa menambah ilmu seluas-luasnya.

Januari 2013. Pertama kalinya mencoba untuk apply paper pada sebuah konferensi internasional. Paper accepted atau diterima di notifikasi email dua minggu setelahnya. Seorang kakak senior 2 tingkat yang saat itu menjadi semacam pembimbing, dengan segera menyusun proposal sponsorship untuk pencarian dana. Beberapa hari setelahnya, saya melihat nama saya –satu-satunya 2012-, tertera dalam tim yang akan berangkat ke Malaysia untuk menghadiri “International Conference of Youth Chemist”. Beberapa pekan pencarian dana ternyata membawa saya pada jalan buntu. Yang berujung pada hilangnya kesempatan saya (tidak untuk tim saya) untuk keluar negeri pertama kalinya pada tahun itu. Penyesalan-penyesalan yang datang menunjukkan bahwa salah satu kunci kegagalan saat itu ialah kurangnya motivasi, dan komunikasi. Cukup sampai disini, dan sumbu mimpi saya masih siap untuk dibakar nanti.

September 2014. Kali ini, saya tidak sendiri. Dipertemukan dengan orang-orang yang punya satu frekuensi tentang mimpi ke luar negeri, kami menyebutnya anak-anak “Menetas”, yang merupakan kependekan dari “Menapak Batas”. Saat itu, tim-tim yang kami bentuk berhasil mendapatkan status accepted abstraknya. Namun lagi-lagi berbagai kesibukan kuliah, menarik dan mempersempit waktu kerja kami, yang akhirnya –lagilagi—mengundurkan langkah kami. Abstrak berstatus accepted hanya tinggal softfile tanpa arti. Mencoba mengevaluasi dibalik semangat yang naik turun, ada beberapa hal yang disadari ternyata cukup mengendurkan semangat kami menuju “Asian Conference on Engineering and Natural Sciences” di Tokyo itu. Biaya registrasi conference yang mahal yang dibayang-bayangi dengan deadline waktu pembayaran ternyata menjadi sebab utama tim yang akhirnya membuat tim “Menetas” mengurungkan niat. Oke, Lupakan tentang ini.

November 2014. Saya kira semangat saya belum berhenti disini, saya (masih) iseng mencari konferensi dengan criteria-kriteria berikut ; registration fee yang medium, tema konferensi masih seputar ilmu kimia, negara penyelenggara bagian dari Asia, dan berada dalam jangka waktu liburan. Pencarian saya mengarah pada salah satu konferensi yang cukup menarik di New Delhi, India. “Asia-Oceania Conference on Green and Sustainable Chemistry”. Pertengahan November saya kirim abstrak yang dibalas dalam dua minggu berupa notifikasi bahwa abstrak saya accepted. Ada keraguan yang sempat muncul, bisakah persiapan dilakukan hanya dalam waktu dua bulan kurang? Sementara pengalaman-pengalaman senior mengatakan konferensi internasional biasanya harus sudah disiapkan minimal 3 bulan sebelumnya. Tiba-tiba teringat bahwa saya masih yakin ada orang-orang yang masih mempunyai semangat tersisa bekas ‘kegagalan’ berangkat konferensi ke Jepang kemarin. Ya, saya mengumpulkan semangat mereka dan menjawab keraguan saya sendiri, InSya Allah bisa.

Desember 2014. Berkumpul, merencanakan langkah-langkah strategis, membuat paspor, menyusun dan menyebar proposal, dan berdoa. Berangkat dari grup WA “Bismillah, India”, semangat kami terus bergerak di tengah-tengah jadwal padat UAS. Mengumpulkan informasi sebanyak-banyaknya, menghubungi pihak perusahana disana-sini,  tidak peduli seperti apa negara yang akan kami kunjungi nanti, kami tetap yakin dengan frasa ini ; Man Jadda Wajada “Barang siapa yang berusaha, maka dia akan mendapatkannya”. Perlahan, semesta seperti mendukung, seperti ada jalan yang terbuka dari berbagai arah tanpa terduga. Kami semakin yakin.

Kamis, 6 Januari 2015. Allah memeluk cita-cita kami : Visa ke India jadi.

Arah Putar Jarum Jam : Yusuf Zaim Hakim, Beryl Mawarid, Arsy Imanda, Ayu Septiarti

Arah Putar Jarum Jam : Yusuf Zaim Hakim, Beryl Mawarid, Ayu Septiarti, Arsy Imanda

“Mimpi-mimpi kamu, cita-cita kamu, keyakinan kamu, apa yang kamu mau kejar, biarkan ia menggantung, mengambang 5 centimeter di depan kening kamu. Jadi dia nggak akan pernah lepas dari mata kamu. Dan kamu bawa mimpi dan keyakinan kamu itu setiap hari, kamu lihat setiap hari, dan percaya bahwa kamu bisa. Apa pun hambatannya, bilang sama diri kamu sendiri, kalo kamu percaya sama keinginan itu dan kamu nggak bisa menyerah. Bahwa kamu akan berdiri lagi setiap kamu jatuh, bahwa kamu akan mengejarnya sampai dapat, apapun itu, segala keinginan, mimpi, cita-cita, keyakinan diri.. Biarkan keyakinan kamu, 5 centimeter mengambang di depan kening kamu.

Dan… sehabis itu yang kamu perlu cuma kaki yang akan berjalan lebih jauh dari biasanya, tangan yang akan berbuat lebih banyak dari biasanya, mata yang akan menatap lebih lama dari biasanya, leher yang akan lebih sering melihat ke atas, lapisan tekad yang seribu kali lebih keras dari baja, dan hati yang akan bekerja lebih keras dari biasanya, serta mulut yang akan selalu berdoa.. Keep our dreams alive, and we will survive..”

― Donny Dhirgantoro5 cm

Alhamdulillah, dan biarkan cita-cita kami berlabuh di India.

*tulisan ini merupakan kisah pengantar dari seri tulisan berikutnya, tentang perjalanan ke India, 13-19 Januari 2015. Semoga bermanfaat 🙂

Yusuf Zaim Hakim, FMIPA UI 2012.

Depok, 27 Juli 2015.

Mahasiswa dan Visi IPTEK Indonesia 2025

crada

Unsur kemajuan peradaban manusia yang cukup penting ialah Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK). Melalui IPTEK , manusia dapat mendayagunakan kekayaan dan lingkungan alam ciptaan Tuhan Yang Maha Esa untuk meningkatkan kesejahteraan dan kualitas kehidupannya. Kemajuan IPTEK juga mendorong terjadinya globalisasi budaya kehidupan disebabkan manusianya yang semakin mampu mengatasi dimensi jarak dan waktu. Sejarah telah membuktikan suatu peradaban besar lahir dari kemampuan manusianya dalam mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi. Dari perspektif kebangsaan, Penguasaan IPTEK suatu bangsa akan sangat mempengaruhi posisi tawar suatu Negara dalam persaingan global. Penguasaan IPTEK ini mengacu pada banyaknya invensi dan inovasi, di mana IPTEK menjadi tulang punggung pembangunan ekonomi dan merupakan indikator harkat serta harga diri bangsa.

Munculnya negara-negara industry baru, seperti Korea Selatan, Thailand, Singapura Malaysia, Taiwan, dan China merupakan hal yang tampak dari optimalisasi iptek tersbut. Dimana Negara-negara Asia tersebut menunjukkan bahwa investasi yang didorong oleh kemajuan di bidang IPTEK sangat terkait erat dengan pertumbuhan ekonomi Negara. Mereka sadar bahwa IPTEK tidak bisa dipisahkan lagi dari upaya menegakkan martabat dan harga diri bangsa. IPTEK telah menjadi keniscayaan untuk “mengungkit” produktivitas aktivitas ekonomi secara lebih besar. Keniscayaan IPTEK sebagai pilar pembangunan merupakan satu-satunya jawaban permasalahan yang muncul dalam upaya menjadikan bangsa yang bermartabat, berharga-diri dan mandiri dalam tata-pergaulan internasional. Selain itu, negara-negara tersebut juga menyadari bahwa aktivitas riset ilmu pengetahuan dan teknologi (RIPTEK) sangat rentan pada jebakan yang dapat memutus seluruh rantai kegiatan jika aktivitas penguasaan tidak menciptakan keterhubungan dengan aktivitas pemberdayaan, yang pada gilirannya, menumbuhkan kesan pemborosan sumber daya.

Kesadaran besar yang muncul itu hakikatnya ialah sesuatu yang sedang dan memang seharusnya dicontoh oleh bangsa besar ini. Ya, Indonesia sudah sepatutnya mengupayakan transformasi penguasaan IPTEK agar dapat mencapai nilai ambang batas yang dapat memicu dan memacu tumbuhnya kemandirian dalam upaya menciptakan pembaharuan sumber-sumber daya RIPTEK secara keseluruhan. Proses pencapaian nilai tersebut sudah pasti membutuhkan peningkatan kapasitas dan kapabilitas yang nantinya dapat “membuktikan” bahwa aktivitas penguasaan dan pemberdayaan IPTEK pasti akan memberikan sumbangsih bagi kehidupan negara. Oleh karena itu diperlukan waktu yang panjang (15 – 25 tahun) untuk melakukan investasi secara berkelanjutan sebelum teknologi potensial dapat memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi masyarakat. Mereka –Indonesia pun harus juga, pen- menyadari bahwa jika dalam tahun 2025 mereka tidak bisa mempersiapkan negaranya menjadi negara yang mempunyai basis IPTEK yang kuat, maka negara tersebut akan ditelan oleh gegap gempita kemajuan negara lain.

Pengalaman dan visi IPTEK negara-negara itulah yang  memacu negara-negara lain, termasuk Indonesia -dalam hal ini pemerintah yang diprakarsai oleh Kemenristek- untuk melakukan tinjauan ulang terhadap berbagai kebijakan dan langkah-langkah yang telah dilakukan, serta memandang jauh ke depan dalam kurun waktu 10 tahun mendatang ke tahun 2025. Tahap ini krusial untuk dilakukan dalam tujuannya menciptakan keberlanjutan yang konsisten dalam mewujudkan IPTEK sebagai pilar pembangunan bangsa. Untuk itu, diperlukan sebuah visi yang memperjelas arah pembangunan IPTEK hingga 10 tahun ke depan.

Menteri Riset dan Teknologi, Kusmayanto Kadiman telah melakukan langkah yang tepat untuk menyusun kembali visi misi IPTEK sejak tahun 2005 hingga tahun 2025 yang dirumuskan sebagai panduan untuk mengoptimalkan setiap sumber daya IPTEK yang dimiliki oleh bangsa Indonesia. Visi-misi ini mengacu pada Undang-Undang No. 18 Tahun 2002 tentang Sistem Nasional Penelitian, Pengembangan dan Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi yang telah diberlakukan sejak 29 Juli 2002. Visi tersebut berbunyi :

“Mewujudkan IPTEK sebagai pendukung dan muatan utama produk nasional untuk peningkatan peradaban, kemandirian dan kesejahteraan bangsa”.

Yang diturunkan menjadi misi sebagia berikut :

  1. Menyusun kebijakan yang berpihak pada pembangunan IPTEK
  2. Membangun dan mengoptimalkan peran Usaha Kecil Menengah dan Koperasi berbasis  IPTEK
  3. Membangun Sumber Daya Manusia menuju masyarakat yang berpengetahuan (knowledge based society) baik laki-laki maupun perempuan, sebagai dasar pembangunan ekonomi yang berbasis pengetahuan (knowledge based economy);
  4. Meningkatkan dan mengoptimalkan peran swasta dalam kegiatan dan investasi penelitian, pengembangan dan penerapan IPTEK;
  5. Memberikan dukungan bagi pemeliharaan dan peningkatan kualitas kehidupan;
  6. Melembagakan IPTEK dalam kehidupan bangsa melalui penguatan sistem inovasi nasional termasuk kesadaran pemahaman masyarakat terhadap IPTEK.

Terbentuknya visi-misi ini tentu harus disertai oleh refleksi kondisi elemen-elemen pendukung yang ada sebagai sumber utama  eksekutor cita-cita mulia tersebut. Salah satu elemen penting pendukung yang berperan vital bagi pembangunan bangsa secara umum ialah pemuda dalam hal ini mahasiswa. Peran pemuda sebagai sumber daya manusia paling unggul yang dapat dimiliki oleh suatu bangsa akan sangat menentukan tercapainya visi-misi IPTEK 10 tahun mendatang.  Melihat napak tilas pemuda Indonesia dalam sejarah bangsa, Sejarah perjalanan bangsa Indonesia selalu menyertakan pemuda pada berbagai moment penting bagi lahirnya dari ide, semangat dan jiwa-jiwa kepemimpinan. Berbagai perisitiwa penting dalam perjalanan sejarah Indonesia selalu melibatkan peran aktif pemuda. Tugas yang tersisa kini ialah bagaimana caranya agar segenap pemuda dapat turut berkontribusi bagi perubahan bangsa Indonesia khususnya melalui peran pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi atau IPTEK. Setidaknya, dari turunan misi diatas, terdapat tiga poin penting yang menurut penulis penting untuk dikaitkan dengan peran dan kontribusi pemuda (mahasiswa) Indonesia.

  Menyusun kebijakan yang berpihak pada pembangunan IPTEK.

Pemuda dalam hal ini mahasiswa tentu harus berpihak tidak hanya pada pembangunan IPTEK saja, namun pembangunan secara umum yang mencakup social, kesehatan, ekonomi, dan sebagainya. Namun konteks pembangunan IPTEK yang berkaitan langsung dengan kebijaka saat ini ialah pengembangan dan optimalisasi riset sebagai kebijakan yang harus didukung dan diutamakan. Jumlah paper atau jurnal ilmiah yang dihasilkan merupakan  indikator yang paling mudah digunakan untuk menunjukkan kemajuan riset suatu Negara. Realita saat ini, menurut sebuah lembaga ilmiah Thomson Scientific yang berbasis di Philadelphia Amerika, di antara negara ASEAN Indonesia menduduki peringkat keempat di bawah Singapore dengan 5781 paper, Thailand yang memiliki 2397 paper dan Malaysia. Sementara jika dibandingkan negara-ne
gara maju di Asia jumlah paper Indonesia jelas sangat tertinggal di mana Jepang memiliki 83484 paper, Cina 57740 paper, Korea 24477 paper, dan India 23336 paper. Jumlah dari Indonesia juga hampir sama dengan paper ilmiah dari Vietnam yang memiliki 453 paper selama tahun 2004 tersebut.

Tidak ada cara lain yang dapat dilakukan mahasiswa selain berperan aktif menjadi peneliti muda dan di sisi lain berperan dinamis dengan mengawal kebijakan-kebijakan pemerintah terkait isu riset.  Program Hibah Dikti yang berupa PKM sudah selayaknya dapat dijadikan bantu loncatan oleh mahasiswa dalam meningkatkan jumlah paper ilmiah yang dihasilkan. Disamping itu, kesungguhan dalam mempersiapkan studi pascar sarjana juga perlu disadari oleh setiap mahasiswa dalam merintis karier penelit di masa yang akan datang. Dengan mempersiapkan profesi peneliti sejak dini, peningkatan kapasitas intelektual seorang pemuda nan akademisi yang akan memberikan kontribusi besar bagi kemajuan iptek nasional bukan hal yang mustahil untuk dicapai.

 Membangun Sumber Daya Manusia menuju masyarakat yang berpengetahuan (knowledge based society) baik laki-laki maupun perempuan, sebagai dasar pembangunan ekonomi yang berbasis pengetahuan (knowledge based economy);

Seorang pemuda memang sudah selayaknya dapat menjadi pelopor ilmu pengetahuan dalam suatu komunitas masyarakat. Dalam konteks kemasyarakatan, mahasiswa mempunyai andil dalam turut serta mencerdaskan dan mengedukasi masyarakat terutama di kawasan yang tertinggal. Edukasi berbasis pengetahuan sejauh ini menjadi langkah yang cukup efektif dilakukan oleh berbagai gerakan kemahasiswaan untuk meningkatkan taraf hidup suatu masyarakat di aerah-daerah. Peningkatan taraf ini dipengaruhi oleh pembangunan dan pemutaran roda ekonomi kecil-kecilan yang di inisiasi oleh pemuda-pemuda.

Beberapa gerakan seperti Indonesia Mengajar dan “Mengajar-Mengajar” lain yang dilakukan oleh beberapa kampus ialah salah satu bukti konkret yang dapat pemuda laka dalam membangun sumber daya manusia yang berpengetahuan. Pekerjaan rumah yang tertingal sekarang ialah bagaimana hal ini bisa terus berjalan secara konsisten,  sehingga terdapat timbale-balik yang berkelanjutan antara masyarakat sebagai penggerak ekonomi dan pemuda sebagai inisiator pengetahuan.

Melembagakan IPTEK dalam kehidupan bangsa melalui penguatan sistem inovasi nasional termasuk kesadaran pemahaman masyarakat terhadap IPTEK. Jika

Melihat konteks kelembagaan IPTEK, maka berjamurnya jumlah komunitas, lembaga keilmuan, dan kelompok-kelompok riset sudah seharusnya dapat dimanfaatkan oleh pemuda untuk berpartisipasi aktif di dalamnya. Setidaknya saat ini, tidak kurang dari 10 lembaga yang sudah berdiri sebagai basis IPTEK di lingkungan internal maupun eksternal kampus.

Salah satu yang cukup terkenal dan sudah lama didirikan ialah MITI (Masyarakat Ilmuwan dan Teknologi Indonesia) yang dirintis oleh seorang ilmuwan teknokrat Dr. Warsito (miti.or.id). MITI kini telah mengawali lahirnya banyak inovasi-inovasi teknologi berbasis kepemudaan. MITI Klaster Mahasiswa ialah salah satu bentuk real yang dapa mewadahi inovasi-inovasi teknologi yang berasal dari mahasiswa.untuk dikembangkan dan diaplikasikan.

Pada akhirnya, output dari peran pemuda pada ranah ini ialah penyadaran seluruh elemen bangsa bahwa eksistensi dan harga diri bangsa ini hanya akan bisa dipertahankan jika IPTEK sebagai elemen dasar kehidupan berbangsa di masa depan dapat dikuasai dan didayagunakan. Untuk mencapai tingkat penyadaran pada seluruh elemen bangsa, IPTEK harus menjadi politik negara. Untuk menciptakan keberlanjutan yang konsisten dalam upaya mewujudkan IPTEK sebagai pilar pembangunan bangsa, diperlukan sebuah visi yang memperjelas arah pembangunan IPTEK yang mana pemuda ialah elemen yang paling bertanggung jawab terhadap tercapainya visi tersebut 10 tahun mendatang.

Oleh :

Yusuf Zaim Hakim

Mahasiswa FMIPA UI Angkatan 2012

Penerima Manfaat Beasiswa Bakti Nusa Angkatan 5

Sumber Referensi :

http://www.kamusilmiah.com/pendidikan/refleksi-penelitian-di-indonesia/

http://www.jpnn.com/read/2014/03/02/219573/Rencana-Strategis-Riset-Indonesia/page2

http://puspiptek.ristek.go.id/media.php?module=halamanstatis&id=5-visioner2015.html

http://miti.or.id/mahasiswa/ilmu-pengetahuan-dan-teknologi/

2014 : Dua

Pertengahan Januari, 2014

“Cup, jadi kadept siar aja yuk” chat WhatsApp tetiba dari Bagas malam itu. tanpa prolog, tanpa pembuka. to the point. Aslinya tidak seseingkat itu pesannya, cuman intinya yaa seperti itu. Ajakan a.k.a lamaran ketua HMDK 2014 yang tanpa basa-basi itu sontak mengagetkan saya.

“Yekali gas -__-“, gw masih begini kok tiba2 lu nawarin gue di siar” bingung Saya, berusaha menolak.

“Iya cup di siar ya, sama Hanif di deputi”  balas Bagas. Saya bingung aslinya bukan karena Bagas yang mengajak saya, tapi karena bidang yang Ia tawarkan tidak pernah sekalipun saya pikirkan. Ditambah sebelum-sebelumnya, Bagas sempat kepikiran menaruh saya di keilmiahan, atau psdm. -makin bingung-

“Gas  -__- …..”

Malam itu jiwa saya bergelut.

Dan, setelah pertarungan batin berhari-hari (lebay), saya lebih siap berada di posisi Deputi, mencoba menyokong Hanif di posisi Kadept. Kata Hanif “apapun posisinya, sama saja, sama-sama beramal”. Ya, dan tampaknya, kata banyak orang, kami benar-benar jadi kombinasi yang cukup apik di siar03 (ye gak nif? @hnfmubarok 8) wkwk), tentunya bareng Sulis dan Nayla. anak kimia antah berantah yang saya awalnya tidak terlalu kenal, hehe. Singkat cerita, setelah sharing-sharing dengan siar-siar terdahulu dan membuat grand design setahun ke depan, bermodal iman dan taqwa(hehe) kami berempat mulai melangkah. Bismillah.

Masa-masa oprec, team building, rapat perdana, rapat bidang, proker demi proker, keramaian grup WA, dan tidak terasa…………………………………………………………………………………………………………………………………………………….

Akhir Tahun 2014

Setahun kepengurusan terlewati, lagi-lagi saya harus bersyukur dan bersabar. Bersyukur karena selama 8 bulan kebelakang, ialah masa-masa belajar banyak hal. Belajar menjalankan risalah Nabi yang tidak lain mensyiarkan Islam di kimia, belajar mengenali 1001 karakter orang, belajar menyusun agenda-agenda kebaikan, dan belajar banyak hal lain. Dan Bersabar, karena ternyata, masih banyak amanah yang belum tertunaikan dengan baik, dan mungkin cukup menyesal karena belum benar-benar bisa maksimal menjalanankan amanah ini. Tapi setidaknya, tidak sedikit memori yang bisa dikenang, dirapihkan sebagai tulisan, dipatri dalam ingatan, bahwa pembelajaran terbaik saya ialah bisa mengenali dan “mengasuh’ keluarga kecil ini. Kami menyebutnya “Keluarga Katalis Iman”. Keluarga yang tersusun atas BPH (Hanif, Saya, Sulis, Nayla) dan para staff (Indra, Rae, Ichsan, Fajar, Arif, Widhi, Fira, Garnis, Darti).

Mereka khas dengan pembawaan mereka masing-masing, yang membuat @siar03 ini begitu kece bagi saya. Betapa semangat mereka kadang membuat saya iri -kenapa saya tdk sesemangat mereka dulu-. Betapa amal dan kontribusi mereka untuk Syiar membuat saya yakin, masih banyak orang-orang baik dengan agenda-agenda kebaikan di Kampus kimia ini. Semoga, amal kalian bisa menjadi pemberat di hari akhir kelak, ya guys :”). Oke, untuk merapikan karakter-karakter keren itu, izinkan saya mendeskripsikan kalian ya 😀

Indra, staff yang hualah kece banget hehe, sebab kesibukannya tampaknya membuat dia tidak pernah membuang waktunya untuk hal-hal yang sia-sia, yoi ga tuh haha. Passion aslinya sebenarnya di seni, terbukti saat menjadi Project Officer Pekan Seni Tiga yang meneguhkan kekeceannya dalam memanajemen waktu dan organisasi. Anyway, terima kasih Indra untuk amal ibadahnya selama setahun ini, semangat di BPM tahun depan (y). Rae, staff yang satu ini berhasil membuat kita para BPH berasa tua sekali (kelahiran 97 coy -_-). Meskipun masih “kecil” tapi pemikirannya dalam dan cerdas. Rae jga merupakan personel Katalis Iman yang paling subur  ._.v dan (mungkin) personel ikhwan yang paling tinggi kehadiran ngumpulnya (wah “prok prok :D), kinerjanya saat memegang amanah sebagai PO DASIS eh FM (First MAJOR) sangat keren, banyak terobosan kecenya :”). Terima kasih Rae untuk kontribusinya kemarin, selamat mewarisi amanah saya setahun kedepan ya -akhirnya ada penerus :” hehe- , InSya Allah setahun lagi di siar akan semakin banyak barokahnya, bro. Ichsan personel kedua tersubur setelah Rae, hehe. Orangnya kritis lagi semi-humoris, dan diluar kampus aktif di sebuah organisasi pemuda anti-korupsi. Beeuhh gils ga tuh. Seneng banget ngedanus :p, ga salah jadi PO Bubur Mangan yang merupakan suatu acara yang … #AhSudahlahSedihMengingatnya L, hehe. Alhamdulillah bubur mangannya surplus dan rame ya san? Hehe. Terima Kasih Ichsan untuk amal kontribusinya setahun ini, dimanapun berada tahun depan, semangat! Fajar bro yang satu ini, aih bingung deskripsinya gimana. Ibarat pepatah, pelan tapi pasti (y), Intensitas sibuknya mirip kayak Indra, bahkan lebih kece dilihat dari ruang lingkupnya. Anak SALAM tjoy! Jadi PO penyambutan maba salam. Soal akademik. Mungkin fajar yang paling hmmm lancar jaya di siar : kalo ga cumlaude, juara OSN -_-“. Amanahnya di PO Sayap Cheker juga gak kalah keren. Terima Kasih Fajar untuk amalnya setahun ini, Semoga SIAR03 HMDK 2015 dimana Fajar sebagai kadept lebiiiiiiiih kereeeeeenn. Aaamiin :D. Arif sosok yang lebih mirip anak Paskibra ini (hehe XD) punya karakter kekhasan sendiri di siar, wawasan yang luas dan kontribusinya di bidang keilmuan. Bro ini –meski di siar- tapi juga aktif berpartisipasi di kegiatan ilmiah macem pkm dan kawanannya (mirip kayak saya sih sebenarnya :p). Tapi kerjanya di PO Silabus mantep (y). Terima kasih ya bro buat kontribusinya setahun ini. Tahun depan dimana rif? ._..

Yak, itulah ikhwan2 kece siar03 8). Yang akhwat, maap ya kalo deskripsinya dikit-dikit :”. Fira. yeay selamat fir sebagai pemenang staff siar terbaik (emang ada ya wkwkw). Ya, totalitas banget di siar, dari segi datang rapat, ide, kontribusi, panjang deh kalo disebutin satu wkwkw, Kami mengacungkan jempol (y). Darti sista yang paling anteng kalem cool tapi penuh perasaan :”. Amalnya juga banyak hampir di setiap proker siar pasti darti siap siaga :D. Garnis staff yang saking amanahnya jadi takut kalo ketemu wkwk : Ya, garnis telaten banget nagihin kas siar a.k.a bendum bidang. Alhamdulillah nya setiap ada tagihan saya selalu ada rezeki lebih jadi ga sungkan buat bayar sekaligus sebulan 2 bulang, ya gak nis? 8) hehe. Widhi personel yang asalnya paling jauuuhh. Kebumen! Kebayang lah ya gimana kangennya sama keluarga tiap hari :”. Tapi kayaknya bagi widhi, makin jauh makin membuat dia merasa harus terus berjuang disini. Ah kece sekali :”. Fira, Darti, Garnis, Widhi, Terima kasih untuk kalian semua telah berada di siar03. Semoga amal2nya menjadi barokah tersendiri ya :”

Hampir Lengkap :")

Hampir Lengkap :”)

Sebenarnya tidak cukup untuk menyebut segala bentuk kebaikan dan amal mereka dalam tulisan ini, Ini mungkin hanya bentuk apresiasi kecil kami untuk kontribusi dan amal setahun kemarin, karena saya –maaf, tidak bisa membalas apa2- :”. Karena totalitas merekalah agenda-agenda kebaikan siar setahun kemarin tentu tidak akan bisa berjalan, tidak akan bisa ada tanpa cerita khasnya masing-masing. Ya, walaupun aslinya hanya proker, namun entah kenapa, proker yg -InSya Allah- dari dan untuk Allah akan menurunkan banyak keberkahan. Tersadar bahwa ternyata banyak sekali nikmat yang Allah kasih sejak saya berkecimpung di siar. Entah mungkin dari peningkatan akademik, prestasi kecil-kecilan, dan hal-hal #Amazing lainnya yg saya alami. Alhamdulillah

Foto terakhir :")

Foto terakhir :”)

Terima Kasih

Dari pembelajaran setahun ini, Sesi yang paling sendu mungkin akan diceritakan disini :’ haha. Bahwa saya bersyukur bisa “berlari” bersama mereka –bukan personel staff-, bersyukur bahwa saya ternyata masih terlalu bodoh untuk menjalankan amanah besar ini bersama mereka. Dibalik kesederhanaan siar tahun ini, mereka ialah behind the scenenya. Yang penuh perhatian lagi pantang menyerah, yang penuh kesabaran lagi totalitas. Bang Hanif, Ule, Naila maaf dan terima kasih banyak. Maaf untuk segala kesalahan dan keluguan ane ya. Terima kasih karena telah mengajarkan banyak hal :”). Innallaha ma’ana.

Suatu Senja di Ujung Jawa

Suatu Senja di Ujung Jawa

Terima Kasih sebesar-besarnya, Syukron Jazakumullah. Semoga Allah tetap mengizinkan kita sama2 menebar manfaat dan kebaikan di lingkungan kimia. Aamiin.

“dan barang siapa yang menaati Allah dan Rasul-Nya, maka ia bersama orang-orang yang Allah beri nikmat, (yaitu) dari golongan para Nabi, para orang-orang jujur, para syuhada, para orang-orang shalih….. ” (An-Nisa : ..)

– maaf kalau tulisan ini agak berlebihan atau sejenisnya, saya hanya mencoba merapihkan kenangan kebaikan selama setahun kemarin. Semoga tulisan ini bermanfaat bagi siapapun yang membacanya 🙂

– FYI : siar03 adalah Departemen Kerohanian Islam HMDK (Himpunan Mahasiswa Departemen Kimia)

Wassalam. Depok, 28 Januari 2015.